Dinamika kebangsaan yang mengemuka selalu dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada dalam diri (internal) maupun di luar dirinya (eksternal). Perubahan-perubahan yang terjadi merupakan suatu keniscayaan yang tidak bisa ditolak dikarenakan saling mempengaruhi antar peradaban yang terjadi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, dalam pandangan antropolog penjajahan terlepas dari negatifnya bagi Indonesia di dalamnya juga terkandung bibit positif. Dalam aspek ilmu pengetahuan serta kemampuan-kemampuan praktis telah ”tertularkan” dari bangsa Eropa yang berada di Indonesia kepada pribumi. Terlebih hal itu terjadi ketika akhir-akhir kolonialisasi VOC yang mengembangkan trias politica dengan semangat edukasi, iirigasi, serta transmigrasi. Hal itu menyebabkan terjadinya perubahan bagi sebagian kelompok di nusantara dalam merasakan nilai-nilai perubahan, walaupun yang dilakukan tidak lepas dalam bingkai kepentingan penjajahan.
Secara historis Indonesia mengalami fase-fase yang menentukan dalam sejarah perjalanan bangsa mulai dari masa penjajahan, masa perjuangan kemerdekaan, masa pertarungan ideology, masa reformasi, yang masing-masing memberikan warnanya tersendiri sehingga membentuk lapisan-lapisan kultural yang menjadi pembentuk karakter bangsa dalam dinamikanya. Keterlanjutan setiap fase memang tidak berjalan secara tetap justru yang terjadi adalah selalu lompatan-lompatan yang ekstrim. Adapun jalannya perubahan tersebut selalu bergerak dalam arah prosedural di tingkat elite sedangkan di lapisan paling bawah yaitu rakyat (grass root) secara nyatanya hanyalah penonton dengan keterlibatan yang sangat minimal. Proses perubahan yang ada dipahami masyarakat hanyalah dalam dimensi elite semata, sehingga rakyat tidak terlibat secara nyata. Dalam bahasa lain bahwa, rakyat hanya ”berguna” dalam pandangan elite saat moment-moment tertentu misalnya dalam masa suksesi. Perubahan tidak menyentuh ke dalam relung yang paling dalam hati nurani rakyat. Kejutan demi kejutan yang hadir menjadikan masyarakat kian mengalami penyakit shock social. Kondisi yang sedemikian kian nyata dalam sudut pandang masalah-masalah yang paling telanjang, misalnya dalam bidang ekonomi rakyat kian terpuruk, kemiskinan merajalela, pengangguran, gizi buruk, kebodohan, dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan di tengah-tengah mereka (rakyat) sekelompok kecil lainnya hidup dalam gelimangan kemewahan, anggaran yang diperuntukkan bagi rakyat tidak mengucur deras yang ada malahan tersendat dengan potongan di sana-sini. Sementara ongkos politik yang dinikmati elite mengucur dengan deras. Dalam diskursus di tingkat elite pandangan yang melandasi tidak lepas dari kepentingan kelompok, sehingga diskusi masalah rakyat tidak dapat berjalan secara lancar karena yang mengemuka adalah dialog-dialog ”retoris” dengan ungkapan-ungkapan yang lantang tapi melemah dalam aspek realisasinya.
Frustasi sosial bangsa ini menjadi sangat akut. Tidak ditemukan konsep-konsep yang jelas bagaimana membangun bangsa ini dalam masa depan. Justru yang terjadi adalah tukar menukar/gonta-ganti kebijakan, sehingga kebingungan melanda. Sedangkan di tengah-tengah bangsa masalah rakyat makin menjadi-jadi. Perubahan menjadi kata-kata yang sangat verbalistik dikarenakan tidak mewujud dalam kenyataan. Setiap pihak berbicara perubahan. Namun, semangat yang muncul tidak lebih sebagai ungkapan politis demi meraih simpati. Setiap lapisan masyarakat yang memiliki peran dan kesadaran tidak mampu bergerak secara komprehensif. Lapisan tengah yang selama ini didengung-dengungkan memiliki peran strategis dalam dinamika perubahan bangsa tidak lagi kedengaran lantang suara dan geraknya. Masalah-masalah yang melingkupi bangsa seolah-olah tidak lagi menarik sehingga dialog kritis masalah kebangsaan sudah mulai lemah suaranya.
Di tengah-tengah situasi internal yang dialami bangsa, interaksi global juga makin kencang menerpa bangsa. Setiap perubahan global secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perjalanan bangsa dengan membawa aspek positif-negatif yang selalu menuntut sikap yang tegas dan jelas. Situasi global yang selalu menampilkan hegemony kekuatan negara-negara adidaya terhadap negara terbelakang membawa suatu gambaran bahwasa negara yang ada dalam kawasan apapun tidak akan bisa lepas dari pertarungan-pertarungan tersebut. Walaupun secara nyatanya konflik ideology antara sosialis dan kapitalis dengan kekuatan sentral Soviet, Amerika Serikat telah usai. Namun, landasan kepentingan ekonomi dengan segala perwujudannya terus saja terjadi. Pasar merupakan suatu paham baru yang merupakan muara dari setiap pergerakan global negara-negara maju yang selalu menginginkan penambahan pundi-pundi kekayaan yang didapat dari eksploitasi serta eksplorasi terhadap negara-negara lemah. Sehingga kesan bahwa negara maju selalu ikut campur dalam kepentingan dalam negeri negara lain. Dengan alasan demokrasi selalu saja diikuti dengan tekanan-tekanan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, kembar siam antara politik dan ekonomi menjadi dua senjata yang selalu siap untuk dilontarkan oleh negara-negara maju.
Dalam kondisi seperti tersebut menjadi pertanyaan mendasar di manakah posisi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)? Apakah menjadi problem solver atau justru menjadi trouble maker. Pertanyaan kritis tersebut patut dimunculkan karena HMI merupakan organisasi tempat bercokolnya kaum muda dibebankan pada tanggung jawab sosial nasib bangsanya Estafet kepemimpinan akan beralih pada kelompok-kelompok baru. Apalagi dengan kedekatan historis HMI dengan senior-senior yang sedang berada di pusaran kekuasaan, menjadikan HMI memiliki peluang untuk menjadi penerus kepemimpinan hari esok. Namun, gerakan politisasi santri yang didengungkan oleh Almarhum Nurcholis Madjid tidak menemukan kenyataannya. Harapan nilai-nilai substantif Islam mengejawantah dalam sistem kekuasaan dan memberikan sentuhan perubahan berada dalam ruang kosong. Justru yang terjadi adalah perilaku santri dalam sistem sama saja dengan kelakuan mereka yang berasal dari Lingkungan yang sekuler. Pertanyaan yang cukup menyeruak terutama ketika melihat peran keluarga besar HMI dalam kiprahnya di berbagai sistem sosial bangsa. Pekerjaan besar dan berat telah menanti yang harus dilakukan adalah bergerak ke dalam menyentuh ke luar. Pernyataan ini mengandung makna: ”ke dalam berarti HMI secara paradigmatik serta konsepsional harus melakukan pembaharuan semangat nilai sehingga gerakan moral Islam yang substantif harus menjadi karakter dan jiwa kader HMI”. Untuk itu, diperlukan ruang-ruang dialog aplikatif melihat kondisi kekinian bangsa. Sehingga persoalan yang menjadi nurani rakyat, membuat HMI dekat dengannya. HMI akan menjadi ”rumah besar” bangsa dengan semangat perubahan dan landasan spirit religiusitas yang terang benderang. Advance Training merupakan ikhtiar untuk merespon tantangan tersebut.
Secara historis Indonesia mengalami fase-fase yang menentukan dalam sejarah perjalanan bangsa mulai dari masa penjajahan, masa perjuangan kemerdekaan, masa pertarungan ideology, masa reformasi, yang masing-masing memberikan warnanya tersendiri sehingga membentuk lapisan-lapisan kultural yang menjadi pembentuk karakter bangsa dalam dinamikanya. Keterlanjutan setiap fase memang tidak berjalan secara tetap justru yang terjadi adalah selalu lompatan-lompatan yang ekstrim. Adapun jalannya perubahan tersebut selalu bergerak dalam arah prosedural di tingkat elite sedangkan di lapisan paling bawah yaitu rakyat (grass root) secara nyatanya hanyalah penonton dengan keterlibatan yang sangat minimal. Proses perubahan yang ada dipahami masyarakat hanyalah dalam dimensi elite semata, sehingga rakyat tidak terlibat secara nyata. Dalam bahasa lain bahwa, rakyat hanya ”berguna” dalam pandangan elite saat moment-moment tertentu misalnya dalam masa suksesi. Perubahan tidak menyentuh ke dalam relung yang paling dalam hati nurani rakyat. Kejutan demi kejutan yang hadir menjadikan masyarakat kian mengalami penyakit shock social. Kondisi yang sedemikian kian nyata dalam sudut pandang masalah-masalah yang paling telanjang, misalnya dalam bidang ekonomi rakyat kian terpuruk, kemiskinan merajalela, pengangguran, gizi buruk, kebodohan, dan banyak lagi yang lainnya. Sedangkan di tengah-tengah mereka (rakyat) sekelompok kecil lainnya hidup dalam gelimangan kemewahan, anggaran yang diperuntukkan bagi rakyat tidak mengucur deras yang ada malahan tersendat dengan potongan di sana-sini. Sementara ongkos politik yang dinikmati elite mengucur dengan deras. Dalam diskursus di tingkat elite pandangan yang melandasi tidak lepas dari kepentingan kelompok, sehingga diskusi masalah rakyat tidak dapat berjalan secara lancar karena yang mengemuka adalah dialog-dialog ”retoris” dengan ungkapan-ungkapan yang lantang tapi melemah dalam aspek realisasinya.
Frustasi sosial bangsa ini menjadi sangat akut. Tidak ditemukan konsep-konsep yang jelas bagaimana membangun bangsa ini dalam masa depan. Justru yang terjadi adalah tukar menukar/gonta-ganti kebijakan, sehingga kebingungan melanda. Sedangkan di tengah-tengah bangsa masalah rakyat makin menjadi-jadi. Perubahan menjadi kata-kata yang sangat verbalistik dikarenakan tidak mewujud dalam kenyataan. Setiap pihak berbicara perubahan. Namun, semangat yang muncul tidak lebih sebagai ungkapan politis demi meraih simpati. Setiap lapisan masyarakat yang memiliki peran dan kesadaran tidak mampu bergerak secara komprehensif. Lapisan tengah yang selama ini didengung-dengungkan memiliki peran strategis dalam dinamika perubahan bangsa tidak lagi kedengaran lantang suara dan geraknya. Masalah-masalah yang melingkupi bangsa seolah-olah tidak lagi menarik sehingga dialog kritis masalah kebangsaan sudah mulai lemah suaranya.
Di tengah-tengah situasi internal yang dialami bangsa, interaksi global juga makin kencang menerpa bangsa. Setiap perubahan global secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi perjalanan bangsa dengan membawa aspek positif-negatif yang selalu menuntut sikap yang tegas dan jelas. Situasi global yang selalu menampilkan hegemony kekuatan negara-negara adidaya terhadap negara terbelakang membawa suatu gambaran bahwasa negara yang ada dalam kawasan apapun tidak akan bisa lepas dari pertarungan-pertarungan tersebut. Walaupun secara nyatanya konflik ideology antara sosialis dan kapitalis dengan kekuatan sentral Soviet, Amerika Serikat telah usai. Namun, landasan kepentingan ekonomi dengan segala perwujudannya terus saja terjadi. Pasar merupakan suatu paham baru yang merupakan muara dari setiap pergerakan global negara-negara maju yang selalu menginginkan penambahan pundi-pundi kekayaan yang didapat dari eksploitasi serta eksplorasi terhadap negara-negara lemah. Sehingga kesan bahwa negara maju selalu ikut campur dalam kepentingan dalam negeri negara lain. Dengan alasan demokrasi selalu saja diikuti dengan tekanan-tekanan yang berorientasi pada kepentingan ekonomi, kembar siam antara politik dan ekonomi menjadi dua senjata yang selalu siap untuk dilontarkan oleh negara-negara maju.
Dalam kondisi seperti tersebut menjadi pertanyaan mendasar di manakah posisi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam)? Apakah menjadi problem solver atau justru menjadi trouble maker. Pertanyaan kritis tersebut patut dimunculkan karena HMI merupakan organisasi tempat bercokolnya kaum muda dibebankan pada tanggung jawab sosial nasib bangsanya Estafet kepemimpinan akan beralih pada kelompok-kelompok baru. Apalagi dengan kedekatan historis HMI dengan senior-senior yang sedang berada di pusaran kekuasaan, menjadikan HMI memiliki peluang untuk menjadi penerus kepemimpinan hari esok. Namun, gerakan politisasi santri yang didengungkan oleh Almarhum Nurcholis Madjid tidak menemukan kenyataannya. Harapan nilai-nilai substantif Islam mengejawantah dalam sistem kekuasaan dan memberikan sentuhan perubahan berada dalam ruang kosong. Justru yang terjadi adalah perilaku santri dalam sistem sama saja dengan kelakuan mereka yang berasal dari Lingkungan yang sekuler. Pertanyaan yang cukup menyeruak terutama ketika melihat peran keluarga besar HMI dalam kiprahnya di berbagai sistem sosial bangsa. Pekerjaan besar dan berat telah menanti yang harus dilakukan adalah bergerak ke dalam menyentuh ke luar. Pernyataan ini mengandung makna: ”ke dalam berarti HMI secara paradigmatik serta konsepsional harus melakukan pembaharuan semangat nilai sehingga gerakan moral Islam yang substantif harus menjadi karakter dan jiwa kader HMI”. Untuk itu, diperlukan ruang-ruang dialog aplikatif melihat kondisi kekinian bangsa. Sehingga persoalan yang menjadi nurani rakyat, membuat HMI dekat dengannya. HMI akan menjadi ”rumah besar” bangsa dengan semangat perubahan dan landasan spirit religiusitas yang terang benderang. Advance Training merupakan ikhtiar untuk merespon tantangan tersebut.
berangkat dari dasar pemikiran tersebut maka Badko HMI Kalbar menyelenggarakan Latihan Kader 3 tingkat Nasioanal, 18-24 Mei 2008 bertempat di LPMP Pontianak. kegiatan ini mengangkat tema " Membangun Indonesia Masa Depan: Mempertegas Identitas dan Eksistensi Kader Di Tengah-Tengah Dinamika Masyarakat Menuju Indonesia Baru ".
adapun Persyaratan Peserta sebagai berikut:
1. Calon peserta Advance Training (Latihan Kader III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat adalah anggota HMI yang telah lulus LK II (Intermediate Training) minimal 1 (satu) tahun. Dibuktikan dengan foto copy sertifikat/surat mandat dari Cabang/Badko yang bersangkutan, diserahkan di lokasi training.
2. Peserta yang berminat mengikuti Advance Training (Latihan Kader III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat harus menyampaikan pokok pikiran makalah dalam bentuk abstrak. Tulisan maksimal 1 halaman, A4, Times New Roman, font 12, menggunakan 1,5 spasi yang disampaikan kepada panitia paling lambat pada tanggal 20 April 2008 via e-mail: lk3.badkokalbar@yahoo.co.id
3. Peserta yang menyampaikan abstrak tulisan melewati tanggal 20 April 2008, diterima apabila peserta yang mendaftar belum memenuhi quota panitia.
4. Peserta yang telah menyampaikan abstrak tulisan sampai waktu yang ditentukan, akan tetapi melebihi quota yang ditetapkan panitia akan diseleksi oleh steering committe.
5. Peserta yang abstraknya dinyatakan diterima oleh panitia, akan diumumkan kelulusannya untuk megikuti Advance Training (LK III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat pada tanggal 23 April 2008 (pengumuman kelulusan peserta disampaikan via e-mail).
6. Peserta yang dinyatakan lulus seleksi (abstrak peserta dinyatakan lulus) segera menyelesaikan penulisan makalahnya dan sudah diserahkan kepada panitia paling lambat tanggal 08 Mei 2008, via e-mail.
7. Peserta yang telah menyampaikan makalah dan bahan presentasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan panitia (paling lambat tanggal 8 Mei 2008) akan diundang untuk mengikuti Advance Training (LK III) tingkat Nasional Badko HMI Kalbar. Undangan akan disampaikan kepada peserta pada tanggal 10 Mei 2008 via e-mail.
8. Peserta yang telah dinyatakan lulus dalam seleksi akan dikenakan biaya administrasi kegiatan sebesar Rp.150.000
9. Peserta menyerahkan pas photo warna dengan ukuran 3x4 sebanyak 3 lembar.
10. Konfirmasi dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
a. Sekretariat Badko HMI Kalbar : 0561-747733
b. Sagianto (Koor.SC) : 081345215370
c. Khairul Muttaqien (Sek. SC) : 085650867380
d. Ahmad Yani (Ex.Officio) : 085650898707
e. E-mail : lk3.badkokalbar@yahoo.co.id
Persyaratan Makalah Peserta:
1. Makalah sesuai dengan jadwal materi.
2. Makalah ditulis dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah.
3. Diprioritaskan hasil studi lapangan peserta.
4. Makalah dibuat sebanyak minimal 20 halaman dengan sistematika 10% pendahuluan, 80% isi dan 10% penutup.
5. Makalah disusun dengan menggunakan kertas A4, times new roman 12 font dan 1,5 spasi.
6. Format penulisan untuk referensi dapat menggunakan catatan kaki atau kutipan langsung.
7. Referensi minimal 12 buah buku selain majalah, koran, buletin dan lain-lain.
Presentasi Makalah:
1. Penyampaian materi setiap peserta selama 10 menit diteruskan dengan dialogis selama 20 menit.
2. Penyampaian makalah dalam bentuk slide power point.
3. Slide power point makalah diprioritaskan dalam format kerangka pikir/pola pikir secara keseluruhan dari isi makalah.
4. Isi Minimum 8 halaman dan maksimum 10 halaman dengan format: 10% pendahuluan, 80% isi dn 10% penutup.
5. Materi presentasi makalah disimpan dalam bentuk soft copy/USB dan disampaikan kepada panitia.
6. Materi presentasi makalah disampaikan kepada panitia paling lambat tanggal 08 Mei 2008.
Ketentuan lain:
1. Peserta harus membawa soft copy/USB untuk menyimpan abstrak, makalah dan bahan presentasi, soft copy/USB juga digunakan untuk menyampaikan presentasi hasil dari diskusi kelompok, tugas kelompok/pribadi, tugas lapangan, dan tugas tanggapan tertulis dari materi yang telah disampaikan.
2. Peserta yang memiliki note book/laptop dianjurkan untuk membawa pada saat mengikuti LK III, agar mempermudah dalam presentasi dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan panitia.
3. Makalah, dan bahan presentasi disampaikan paling lambat tanggal 10 Mei 2008, menggunakan e-mail dan soft copy/ USB akan diterbitkan oleh panitia LK III bekerja sama dengan Penerbit Insan Cita Kalimantan Barat (anggota IKAPI). Diharapkan penerbitan tersebut telah selesai sebelum kegiatan LK III berakhir.
4. Makalah materi LK III dan Proseding kegiatan juga akan diterbitkan oleh panitia LK III bekerjasama dengan Penerbit Insan Cita Kalimantan Barat (anggota IKAPI).
1. Calon peserta Advance Training (Latihan Kader III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat adalah anggota HMI yang telah lulus LK II (Intermediate Training) minimal 1 (satu) tahun. Dibuktikan dengan foto copy sertifikat/surat mandat dari Cabang/Badko yang bersangkutan, diserahkan di lokasi training.
2. Peserta yang berminat mengikuti Advance Training (Latihan Kader III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat harus menyampaikan pokok pikiran makalah dalam bentuk abstrak. Tulisan maksimal 1 halaman, A4, Times New Roman, font 12, menggunakan 1,5 spasi yang disampaikan kepada panitia paling lambat pada tanggal 20 April 2008 via e-mail: lk3.badkokalbar@yahoo.co.id
3. Peserta yang menyampaikan abstrak tulisan melewati tanggal 20 April 2008, diterima apabila peserta yang mendaftar belum memenuhi quota panitia.
4. Peserta yang telah menyampaikan abstrak tulisan sampai waktu yang ditentukan, akan tetapi melebihi quota yang ditetapkan panitia akan diseleksi oleh steering committe.
5. Peserta yang abstraknya dinyatakan diterima oleh panitia, akan diumumkan kelulusannya untuk megikuti Advance Training (LK III) tingkat Nasional Badko HMI Kalimantan Barat pada tanggal 23 April 2008 (pengumuman kelulusan peserta disampaikan via e-mail).
6. Peserta yang dinyatakan lulus seleksi (abstrak peserta dinyatakan lulus) segera menyelesaikan penulisan makalahnya dan sudah diserahkan kepada panitia paling lambat tanggal 08 Mei 2008, via e-mail.
7. Peserta yang telah menyampaikan makalah dan bahan presentasi sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan panitia (paling lambat tanggal 8 Mei 2008) akan diundang untuk mengikuti Advance Training (LK III) tingkat Nasional Badko HMI Kalbar. Undangan akan disampaikan kepada peserta pada tanggal 10 Mei 2008 via e-mail.
8. Peserta yang telah dinyatakan lulus dalam seleksi akan dikenakan biaya administrasi kegiatan sebesar Rp.150.000
9. Peserta menyerahkan pas photo warna dengan ukuran 3x4 sebanyak 3 lembar.
10. Konfirmasi dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi :
a. Sekretariat Badko HMI Kalbar : 0561-747733
b. Sagianto (Koor.SC) : 081345215370
c. Khairul Muttaqien (Sek. SC) : 085650867380
d. Ahmad Yani (Ex.Officio) : 085650898707
e. E-mail : lk3.badkokalbar@yahoo.co.id
Persyaratan Makalah Peserta:
1. Makalah sesuai dengan jadwal materi.
2. Makalah ditulis dengan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah.
3. Diprioritaskan hasil studi lapangan peserta.
4. Makalah dibuat sebanyak minimal 20 halaman dengan sistematika 10% pendahuluan, 80% isi dan 10% penutup.
5. Makalah disusun dengan menggunakan kertas A4, times new roman 12 font dan 1,5 spasi.
6. Format penulisan untuk referensi dapat menggunakan catatan kaki atau kutipan langsung.
7. Referensi minimal 12 buah buku selain majalah, koran, buletin dan lain-lain.
Presentasi Makalah:
1. Penyampaian materi setiap peserta selama 10 menit diteruskan dengan dialogis selama 20 menit.
2. Penyampaian makalah dalam bentuk slide power point.
3. Slide power point makalah diprioritaskan dalam format kerangka pikir/pola pikir secara keseluruhan dari isi makalah.
4. Isi Minimum 8 halaman dan maksimum 10 halaman dengan format: 10% pendahuluan, 80% isi dn 10% penutup.
5. Materi presentasi makalah disimpan dalam bentuk soft copy/USB dan disampaikan kepada panitia.
6. Materi presentasi makalah disampaikan kepada panitia paling lambat tanggal 08 Mei 2008.
Ketentuan lain:
1. Peserta harus membawa soft copy/USB untuk menyimpan abstrak, makalah dan bahan presentasi, soft copy/USB juga digunakan untuk menyampaikan presentasi hasil dari diskusi kelompok, tugas kelompok/pribadi, tugas lapangan, dan tugas tanggapan tertulis dari materi yang telah disampaikan.
2. Peserta yang memiliki note book/laptop dianjurkan untuk membawa pada saat mengikuti LK III, agar mempermudah dalam presentasi dan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan panitia.
3. Makalah, dan bahan presentasi disampaikan paling lambat tanggal 10 Mei 2008, menggunakan e-mail dan soft copy/ USB akan diterbitkan oleh panitia LK III bekerja sama dengan Penerbit Insan Cita Kalimantan Barat (anggota IKAPI). Diharapkan penerbitan tersebut telah selesai sebelum kegiatan LK III berakhir.
4. Makalah materi LK III dan Proseding kegiatan juga akan diterbitkan oleh panitia LK III bekerjasama dengan Penerbit Insan Cita Kalimantan Barat (anggota IKAPI).

