Waktu Lapmi Dan Sekitarnya
Kamis, 07 Februari 2008
Sejarah Pendidikan Jurnalistik
Walaupun tidak melalui pendidikan formal, namun seorang wartawan haruslah mengetahui fungsi utama tugasnya sebagai wartawan, yaitu apa yang secara universal dikenal: (1) menyajikan informasi; (2) memberikan pendidikan; (3) memberikan hiburan. Untuk
bisa menjalankan fungsinya ini, seorang wartawan dituntut untuk dapat memenuhi persyaratan tertentu, seorang wartawan dituntut untuk dapat memenuhi persyaratan tertentu, yaitu pertama: memiliki kecerdasan; kedua: senantiasa bersikap waspada; ketiga: memiliki rasa ingin tahu yang tak habis-habisnya; keempat peduli terhadap masyarakat; kelima: akal yang panjang; keenam: memiliki kepekaan terhadap ketidakadilan; dan ketujuh: berani untuk berbeda pendapat dengan pihak yang berkuasa.
Di samping itu tentu saja seorang wartawan harus dapat mengantisipasi kemungkinan risiko yang harus ditanggung dalam melaksanakan kewajibannya.
Kerja Rutin Wartawan dan Kehidupan di dalam News Room
Dalam pelaksanaan tugas jurnalistik di sebuah penerbitan ataupun sebuah stasiun radio/televisi, sebagaimana halnya sebuah institusi, terdapat pembagian tugas yang jelas, demi penjaga kelancaran kerja sehari-hari.
Selain itu setiap insan yang bekerja sebagai seorang wartawan dan menjadi anggota sebuah organisasi yang secara resmi diakui eksistensinya, baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat luas, hendaknya menaati kode etik yang telah diakui dan diterima oleh organisasi tersebut.
Pengertian Berita
Pada dasarnya berita adalah laporan tentang suatu kejadian yang dianggap penting dan menarik. bagi khalayak. Dari berbagai macam batasan yang diberikan orang tentang berita, pada prinsipnya ada unsur penting yang harus diperhatikan yaitu unsur-unsur laporan, kejadian/peristiwa/pendapat yang menarik dan penting, serta disajikan secepat mungkin (terikat oleh waktu). Berita tersebut memiliki beberapa kriteria, antara lain harus akurat, lengkap, objektif, seimbang, jelas dan ringkas.
Berbagai Jenis Berita
Ditinjau dari penyajiannya, berita terdiri dari straight news dan features. Straight news dari soft news dan hard news. Features terdiri dari beberapa macam, mulai dari bright sampai enterprise story.
Dalam media cetak, selain berita juga terdapat berbagai tulisan seperti tajuk rencana, analisis berita, komentar berita, aritkel opini, resensi, pojok dan kolom.
Jenis Tulisan dalam Media Cetak
Jenis tulisan yang biasa muncul dimedia cetak adalah: Features (Karangan Khas), Editorial (Tajuk Rencana), kolom, News Commentary (Komentar Berita), News Analysis (Analisis Berita), Artikel Opini, dan Review/Resensi/Kritik.
Ada 2 teknik menulis resensi/revlew/kritik, yaitu secara impresif dan autoritatif. Kedua jenis metode ini nampaknya terpisah, tetapi dalam kenyataannya, wartawan bidang seni terkadang menggabungkan kedua metode ini.
Pengertian Sumber Berita
Dalam menjalankan tugasnya, seorang wartawan/jurnalis pasti akan berhubungan dengan sumber berita. Sumber berita tidak hanya manusia tetapi juga peristiwa.
Sumber berita merupakan awal dari proses terciptanya berita. Dalam proses inilah diperlukan kemampuan wartawan dalam mencari dan mengolah sumber berita sehingga dapat tercipta sebuah berita yang baik dan benar serta layak ditampilkan.
Metode Perolehan Berita
Terdapat beberapa metode untuk memperoleh berita yang terdiri dari wawancara, observasi, riset kepustakaan, press release/press conference dan statement of informan.
Sebagian besar metode perolehan berita adalah melalui wawancara. Tetapi dalam perkembangan jurnalistik mutakhir, angka dan data dari kepustakaan juga ambil peranan penting. Observasi adalah kegiatan mental yang subjektif dari wartawan sebagai hasil pengolahan stimuli di sekitarnya dan observasi ini digunakan untuk “mempermudah laporan”.
Press Conference, penting terutama untuk memperoleh background information untuk hal-hal yang masih sangat baru. Sedangkan statement of information bukan digunakan sebagai narasumber, tetapi metode yang artinya harus dilacak lagi kebenaran dan kegunaannya bagi masyarakat.
Melindungi Sumber Berita
Dalam membina hubungan dengan narasumber, seorang wartawan harus memperhatikan beberapa etika. Beritahukan tujuan kita kepada narasumber. Lindungilah kredibilitas dan reputasi sumber berita, hargailah hak-hak narasumber, dan jangan sekali-sekali mengharap narasumber “tergelincir” dalam pernyataannya.
copyright BeritaNET.com, 01 Oktober, 2007
Jurnalisme
Di Indonesia, istilah ini dulu dikenal dengan publisistik. Dua istilah ini tadinya biasa dipertukarkan, hanya berbeda asalnya. Beberapa kampus di Indonesia sempat menggunakannya karena berkiblat kepada Eropa. Seiring waktu, istilah jurnalistik muncul dari Amerika Serikat dan menggantikan publisistik dengan jurnalistik. Publisistik juga digunakan untuk membahas Ilmu Komunikasi.
Jurnalisme dapat dikatakan "coretan pertama dalam sejarah". Meskipun berita seringkali ditulis dalam batas waktu terakhir, tetapi biasanya diedit sebelum diterbitkan.
Jurnalis seringkali berinteraksi dengan sumber yang kadangkala melibatkan konfidensialitas. Banyak pemerintahan Barat menjamin kebebasan dalam pers.
Aktivitas utama dalam jurnalisme adalah pelaporan kejadian dengan menyatakan siapa, apa, kapan, di mana, mengapa dan bagaimana (dalam bahasa Inggris dikenal dengan 5W+1H) dan juga menjelaskan kepentingan dan akibat dari kejadian atau trend. Jurnalisme meliputi beberapa media: koran, televisi, radio, majalah dan internet sebagai pendatang baru.
copyright BeritaNET.com, 01 Oktober, 2007
Sejarah Jurnalisme Indonesia
Di Indonesia, perkembangan kegiatan jurnalistik diawali oleh Belanda. Beberapa pejuang kemerdekaan Indonesia pun menggunakan jurnalisme sebagai alat perjuangan. Di era-era inilah Bintang Timur, Bintang Barat, Java Bode, Medan Prijaji, dan Java Bode terbit.
Pada masa pendudukan Jepang mengambil alih kekuasaan, koran-koran ini dilarang. Akan tetapi pada akhirnya ada lima media yang mendapat izin terbit: Asia Raja, Tjahaja, Sinar Baru, Sinar Matahari, dan Suara Asia.
Kemerdekaan Indonesia membawa berkah bagi jurnalisme. Pemerintah Indonesia menggunakan Radio Republik Indonesia sebagai media komunikasi. Menjelang penyelenggaraan Asian Games IV, pemerintah memasukkan proyek televisi. Sejak tahun 1962 inilah Televisi Republik Indonesia muncul dengan teknologi layar hitam putih.
Masa kekuasaan presiden Soeharto, banyak terjadi pembreidelan media massa. Kasus Harian Indonesia Raya dan Majalah Tempo merupakan dua contoh kentara dalam sensor kekuasaan ini. Kontrol ini dipegang melalui Departemen Penerangan dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Hal inilah yang kemudian memunculkan Aliansi Jurnalis Indepen yang mendeklarasikan diri di Wisma Tempo Sirna Galih, Jawa Barat. Beberapa aktivisnya dimasukkan ke penjara.
Titik kebebasan pers mulai terasa lagi saat BJ Habibie menggantikan Soeharto. Banyak media massa yang muncul kemudian dan PWI tidak lagi menjadi satu-satunya organisasi profesi.
Kegiatan jurnalisme diatur dengan Undang-Undang Penyiaran dan Kode Etik Jurnalistik yang dikeluarkan Dewan Pers.
copyright BeritaNET.com, 01 Oktober, 2007
Rabu, 06 Februari 2008
Pelantikan Pengurus HMI Cabang Pontianak
Jumat, 29 Juni 2007 Insya Allah akan diadakan Pelantikan Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pontianak. Dimana sejarah baru di dalam suatu organisasi "Hijau Hitam" ini akan tercipta yang diketuai oleh Juni Wardana sebagai Ketua Umum terpilih. Kegiatan ini nantinya bertempat di Hotel Merpati dimulai pada 19.30 WIB.
Setelah acara pelantikan dilanjutkan dengan dialog publik dengan tema "Meneropong Peluang Calon Independent dalam Pilkada Kalbar" akan menghadirkan pemateri-pemateri yang mungkin cukup berperan di dalam Pilkada 2007 ini dan memberikan suatu nuansa yang berbeda dan baru dari pelantikan kepengurusan yang sebelumnya. Kegiatan ini juga turut mengundang Walikota Pontianak yang sekaligus membuka acara, Ketua KAHMI Wilayah Kalbar, BEM dan UKM baik itu di tingkat Fakultas maupun Universitas, OKP-OKP, dan juga elemen elemen lainnya.
Demikian Informasi ini kami sampaikan dan semoga kegiatan ini dapat berjalan dengan sukses dan lancar. Terima Kasih
Wandy, Ketua Panitia Pelaksana
Copyright © Pontianak Post
Bangkitnya Lembaga Pers Mahasiswa Islam
HIMPUNAN Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pontianak berhasil mengaktifkan kembali salah satu lembaga semi otonomnya. Setelah melaksanakan serangkaian kegiatan berupa pelatihan jurnalistik dasar yang diikuti oleh kader HMI dari berbagai komisariat serta musyawarah lembaga untuk mencapai suatu kesepakatan bersama, akhirnya Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI cabang Pontianak berhasil dieksiskan kembali setelah sebelumnya sempat vakum.
Panitia pelatihan jurnalistik dasar dan musyawarah lembaga pers mahasiswa Islam HMI Cabang Pontianak mengucapkan selamat atas terpilihnya Yunda Rizky Wahyuni sebagai direktur Lapmi-HMI periode 2007-2008, serta mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu baik moril maupun materil hingga terlaksananya kedua kegiatan tersebut dengan lancar.
Adapun pihak yang telah membantu antara lain: Pengurus HMI Cabang Pontianak, Caretaker Lapmi-HMI Cabang Pontianak, Kepala Magister Ilmu Hukum Untan, Kanda Awang Sofian Rozali, Kanda Abdurahmi, Kanda Heri Bastaman, Kanda Jamaluddin MT, Kanda Andi Musa, Kanda M.Yusuf. Kanda Nur Iskandar, Kanda Alik Rosyad, Kanda Viryan Azis, Kanda Doni, Kanda Edi R Yacob, Kanda Nurjani, Kanda Abriyandi, Kanda Hamka Siregar. Bapak Aswandi, Harian Borneo Tribune, Harian Pontianak Post. Dan seluruh pihak yang tak dapat disebutkan satu per satu.
Panitia Pelatihan Jurnalistik,
Lembaga Musyawarah
Hendri Fahrizal (Ketua)
Novita (Sekretaris)
Surat Terbuka untuk Pengurus HMI
MEMBACA surat pembaca Pontianak Post tertanggal 9 Juli 2007, sebagai orang yang pernah aktif di HMI sangat terkejut sekali ketika membaca tulisan tentang pendidikan atas nama Rinto Wiarta. Isi tulisan tersebut bagus namun yang saya permasalahkan adalah penulisnya, mengingat:
1. Saudara Rinto Wiarta dalam tulisan tersebut mengatasnamakan ketua Gerakan Mahasiswa Pemuda Indonesia (GMPI) Kalbar.
2. Rinto Wiarta masih tercatat sebagai Ketua Komisariat dan Pengurus HMI dengan posisi strategis Wasekum PAO.
3. Dalam AD/ART HMI pasal 9 pengurus HMI dilarang untuk rangkap jabatan dengan organisasi struktural lainnya.
4. Disinyalir pengurus cabang mengetahui status saudara Rinto Wiarta namun membiarkannya.
5. Kalau benar pengurus HMI telah mengetahui status saudara Rinto berarti pengurus HMI Cabang Pontianak telah melanggar konstitusi padahal ketua HMI saat ini adalah mantan Kabid PAO yang mengerti betul persoalan rangkap jabatan ini.
Untuk itu kami mohon ketegasan dan klarifikasi dari pengurus HMI Cabang
Pontianak mengenai permasalahan ini.
Kepada anggota HMI yang lain jangan bungkam melihat ketidak beresan di tubuh HMI. Jangan semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.
Rahmad S, Anggota HMI
Silaturahmi Potensi Umat
Pontianak,- Kekuatan tali silaturahmi merupakan potensi umat yang harus tetap dilestarikan. Menurut Ketua Harian Majelis Wilayah Kahmi Kalbar, Tony Kurniadi, kemarin, silaturahmi ini kuncinya adalah kebersamaan dalam menyatukan persepsi.
“Silaturahmi merupakan dasar sebuah kekuatan kolektif kejuangan untuk membangun segala aspek kehidupan. Melalui acara buka bersama korps alumni HMI bersama kader mempererat sendi-sendi persaudaraan,” kata dia, Senin (1/10), di kediaman Zulfadhli Dewan Penasehat Majelis Kahmi Kalbar.
Dia mengatakan alumni HMI tersebar di seluruh penjuru tanah air dan berkiprah berbagai bidang. Menurut dia, dengan latar belakang dan profesi yang berbeda serta kesibukan tentunya tatap muka sesama alumni menjadi jarang.
“Supaya tidak terputus tali persaudaraan semasa di kader, maka sangat penting sekali dilakukan sebuah agenda silaturahmi seperti berbuka puasa ini. Apalagi yang hadir ratusan orang terdiri dari alumni dan kader HMI,” ungkap Tony sapaan akrabnya yang juga anggota legislatif Kalbar ini.
Sementara itu, Zulfadhli mengatakan supaya seluruh kader maupun alumni merenung sejenak tentang perbuatan yang dilakukan. Dikatakannya, seluruh umat Islam perlu mengintrospeksi diri.
“Introspeksi diri ini, yakni apakah kita telah melaksanakan perintah atau menjauhi larangan Allah SWT. Atau malah kebalikan dari semua itu, sehingga diri kita ini menjauh dari sang khaliq,” ungkapnya memberikan siraman rohani kepada kader didampingi pengurus Majelis Kahmi Kalbar.
Menurut dia, manusia adalah makhluk lemah yang tidak luput dari kesalahan. Karena itu, sambung dia, jika manusia selalu menganggap dirinya paling baik maka tidak akan pernah merenungkan kesalahan yang diperbuatnya.
“Kalau kita menganggap diri kita paling baik, berarti kita tidak jujur dengan diri sendiri. Guna melakukan penilaian dan evaluasi pada diri sendiri, hendaknya meminta pendapat dari orang lain,” tutur bang zul sapaan akrabnya. (riq)
Green Black Expo
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat dakwah, syari'ah dan tarbiyah cabang Pontianak mengadakan kegiatan yang bertajuk "Green Black Expo" di Aula kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Pontianak. Acara ini berlangsung dari hari Jumat hingga Minggu kemarin. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pontianak, Juni Wardana.
Kegiatan ini diisi dengan Lomba Memasak Nasi Goreng yang dibuka untuk umum. Disusul dengan bedah film dan diskusi, dan diakhiri dengan acara penutupan, pembagian hadiah dan hiburan dari Komunitas Santri (Komsan) dan Band STAIN.
Dian Kartika
Modal Awal Tunaikan Visi Misi : Pilkada Kalbar Kondusif
Pontianak,- Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI) Kota Pontianak memberikan apresiasi positif terhadap lancarnya proses demokratisasi Pilkada Gubernur Kalbar.
Organisasi ini mendukung penuh siapa pun nantinya yang terpilih menjadi Gubernur Kalbar dan berharap mampu memerangi kemiskinan dan kebodohan yang masih melilit masyarakat Kalbar serta mampu menjalankan visi dan misinya untuk kemaslahatan seluruh masyarakat daerah ini.
“KAHMI memberikan apresiasi kepada empat calon dan tim sukses, organisasi masyarakat, aparat kemanan, pemerintah, dan masyarakat secara luas yang telah menciptakan suasana kondusif,” kata Ketua KAHMI Pontianak, Sujadi SAg kemarin (18/11).
Menurutnya, kekondusifan ini merupakan modal awal untuk mewujudkan visi misi dan program gubernur terpilih yang telah dijanjikannya kepada rakyat saat kampanye.
“KAHMI Kota Pontianak memberikan dukungan kepada Gubernur terpilih, siapapun dia,” ujarnya. Menurutnya, indikator Pilkada Kalbar berjalan demokratis diantarnya dapat dilihat dari semakin membaiknya pendataan pemilih dari pemilihan sebelumnya, saat kampanye, serta perhitungan suara yang berjalan lancar.
“Memang masih ada pelanggaran, tapi tidak berdampak signifikan akan kelangsungan Pilkada Kalbar. Kalaupun ada pasangan calon yang merasa dirugikan atas pelanggaran itu, selesaikan dengan cara elegan sesuai perundang-undangan dan hukum yang berlaku,” kata Sujadi yang juga Anggota KPUD Kota Pontianak ini.
Suksesnya Pilkada Gubernur Kalbar, kata dia, dapat dilihat dari animo masyarakat yang cukup tinggi untuk menggunakan suaranya. “Di Pontianak saja, 80 persen masyarakat yang terdata di daftar pemilih tetap (DPT) menggunakan hak suaranya. Ini berarti animo masyarakat untuk memilih cukup tinggi di Kota Pontianak,” katanya.
Sujadi berharap, pasangan calon yang tidak terpilih juga bisa merealisasikan program beserta visi misniya dalam membangun Kalbar.
“Memajukan Kalbar kan tidak hanya menjadi Gubernur. Dalam artian, Gubernur bukan harga mati untuk berbuat sesuatu memajukan daerah. Karenanya, mereka yang belum diberi kepercayaan untuk menjadi gubernur juga tetap bisa memajukan Kalbar di luar itu,” katanya. (zan)
Copyright © Pontianak Post
Hasan Karman Menang, Hormati Pilihan Rakyat
Singkawang,- Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Kalimantan Barat minta kepada seluruh masyarakat Singkawang untuk menghormati pilihan rakyat dalam pemilu wali kota dan pemenangnya adalah Hasan Karman dan Edy R Yacoub.
Demikian diungkapkan salah satu Presidium KAHMI Kalbar, Minhani SE kepada Pontianak Post, kemarin. Menurut Minhani, masyarakat Singkawang sudah memberikan hak pilihnya secara langsung. Artinya, Hasan Karman dan Edy dipilih sesuai dengan hati nurani masyarakat Singkawang.
"Itulah cerminan demokrasi, dan harus kita hormati pilihan rakyat itu," kata Minhani. Dia juga memberikan apresiasi kepada Komisi Pemilihan Umum Singkawang dan jajarannya sudah bekerja keras melaksanakan pemilu ini dengan baik. "Siang malam mereka telah melakukan pekerjaan demi suksesnya pelaksanaan pemilu. Jadi, KAHMI Kalbar dan Singkawang memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada anggota KPU dan jajarannya serta pihak lain, seperti Panwaslu Singkawang, Polres, Kodim 1202, Pemkot Singkawang serta jajaran kebawahnya yang telah menyukseskan pelaksanaan pemilu ini. Kita harus bergandengan tangan dan mengkritisi kebijakan yang diambil oleh wali kota dan wakil wali kota jika terpilih memang tidak berpihak kepada rakyat ketika menjalankan tugas," kata Minhani mengingatkan.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua DPD PKS Singkawang, Paryanto. Menurut Paryanto, pemilu yang telah selesai dilaksanakan merupakan bukti pilihan rakyat. "Hasan Karman dan Edy R Yacoub sekarang memimpin perolehan suara. Artinya, rakyat Singkawang mempercayakan kepada mereka untuk memimpin Singkawang lima tahun kedepan," katanya.
Menurut ketua partai Islam ini, kesemua itu adalah kehendak Allah SWT dan pastilah yang terbaik. "Manusia mungkin berpikir tidak baik, tapi lain dengan Allah, pasti itu adalah yang terbaik. Allah lebih mengetahui dibalik semua ini," kata Paryanto mengingatkan. Menurut dia, bila memang ada masalah dengan proses ini, hendaknya diserahkan kepada aparat hukum.
"Kita katanya menjunjung tinggi azas hukum. Maka serahkan semuanya ke proses hukum, bila ada masalah. Jangan sampai kita terpecah belah hanya persoalan ini," kata Paryanto. (zrf)
Copyright © 2008 Pontianak Post
Badko HMI Pertegas Tunda Musda KNPI!
Pontianak,- Badko HMI Kalbar secara tegas meminta agar Musyawarah Daerah (Musda) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalbar ditunda. Beberapa hal menurut mereka menjadi sebab agenda yang dijadwalkan berlangsung di penghujung Januari tersebut belum bisa dihelat. Salah satunya belum terbentuknya kepengurusan KNPI pada daerah-daerah pemekaran.
“Melihat kondisi KNPI saat ini masih terdapat beberapa hal atau program yang harus dituntaskan sebelum melakukan musda,” ujar Ichfany, ketua Umum Badko HMI Kalbar didampingi Sekretaris Umum Khairul Muttaqin kepada Pontianak Post, Rabu, 2 Januari. Mereka memandang beberapa hal yang harus dituntaskan yakni konsolidasi organisasi KNPI. Konsolidasi tersebut dinilai masih belum optimal, seperti halnya yang terjadi pada beberapa KNPI Kabupaten/kota. Ketidakoptimalan tersebut menurut mereka lebih disebabkan belum terbentuknya kepengurusan KNPI pada wilayah pemekaran sepertihalnya Kayong Utara dan Kubu Raya. Kemudian di sisi lain disebutkan dia, beberapa kepengurusan KNPI kabupaten juga belum menggelar musda.
Di sisi lain mereka juga menilai belum terselesaikannya program-program yang melibatkan organisasi-organisasi yang terhimpun di dalam KNPI Kalbar. Persoalan lain yakni sosialisasi yang berhubungan dengan musda sepertihalnya tema, materi-materi serta isu sentral yang akan diusung dalam Musda belum tersosialisasi secara optimal. Semestinya sosialisasi tersebut telah dilakukan dan tersampaikan kepada organisasi-organisasi yang terhimpun dalam KNPI.
“Untuk itu kami dari Badko HMI Kalbar meminta agar Musda KNPI ditunda untuk sementara waktu, sampai persoalan-persoalan tersebut dapat terselesaikan,” tandasnya. Pontianak Post sebelumnya memberitakan Musda KNPI Kalbar baru akan berlangsung Januari 2008 mendatang. Namun kandidat yang akan duduk dalam pucuk pimpinan organsasi kepemudaan tersebut telah mulai ramai dibicarakan. Bahkan, konon di antara mereka telah mulai melakukan lobi-lobi politik untuk meminta dukungan. Permintaan dukungan telah tertuju baik ke kalangan fungsionaris KNPI sendiri, maupun terhadap para pimpinan OKP yang tergabung dalam KNPI. Badko HMI berharap musda dapat menjadi momen strategis bersama, bagi pengembangan ruang gerak dan langkah perjuangan pemuda di Kalbar. Salahsatunya menurut mereka adalah melakukan pengembangan inovasi dan evaluasi terhadap kinerja kepengurusan KNPI. (ote)
Copyright © 2008 Pontianak Post
Pekan Bakti HMI
Pontianak,- HMI sebagai organisasi perkaderan dengan basis anggota yang banyak dan hampir menyebar di seluruh tanah air harus tetap melakukan perkaderan baik secara formal maupun non formal agar regenerasi dan penyegaran ghirah perjuangan terus menampakkan eksistensinya.
Selain perkaderan formal, dalam rangka peningkatan kualitas perjuangan juga diperlukan pola perkaderan non formal yang dapat meningkatkan kepekaan kader terhadap kebutuhan masyarakat baik dalam konteks keumatan maupun dalam konteks kebangsaan.
Perjuangan membutuhkan kepekaan terhadap realita. Kepekaan itu dengan sendirinya akan terasah apabila kader langsung berhadapan dengan kondisi sosio-religi masyarakat. Dengan melihat kondisi itu maka diharapkan kader menjadi tersentuh hatinya dan tergugah semangat berjuangnya. Sehingga ada usaha untuk merubah realita tersebut.
Konteks perjuangan yang terkadang hanya bersifat wacana dan nostalgia kerapkali menjadikan kader terbunuh daya juangnya. Perubahan perkaderan harus terus dilakukan dengan segenap daya kreatifitas dan intelektualitas karena perjuangan tidak akan pernah berakhir.
“Berkaca dengan realita yang ada mengharuskan kami dari HMI Cabang Pontianak mengadakan kegiatan Pekan Bakti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan mengusung tema “HMI dalam bingkai perjuangan masyarakat; suatu usaha mengimplementasikan wacana berjuang bersama masyarakat.” Ini sebagai salah satu usaha membangun perjuangan bersama masyarakat. Pelaksanaannya 21 hingga 27 Januari 2008 di Desa Sungai Jaga B, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang,” terang Sugeng Rohadi Kabid Pemberdayaan Ummat (PU) HMI Cabang Pontianak.(har)
Copyright © 2008 Pontianak Post
KAHMI KKR Dikukuhkan
Ketua Umum terpilih Imam–sapaan akrabnya- mengatakan memiliki visi dan misi mewahdai KAHMI kedepannya.
”Kami berharap KAHMI bisa turut serta dalam proses panjang pembangunan Kabupaten Kubu Raya ini,” katanya ketika mengelar jumpa pers didampingi unsur bendahara dan para anggota yang lain.
Imam menyebutkan terbentuknya KAHMI Kabupaten Kubu Raya diharapkan merupakan tonggak dalam berjuang membangun Kabupaten termuda ini bersama kalangan masyarakatnya. Maka dari itu, kembali pada perjuangan murni untuk masyarakat tetaplah menjadi pijakan KAHMI kedepannya. Apalagi, kawan-kawan satu arah dan seataplah menjadi kunci keberadaan organisasi ini.
Dalam menyikapi sektor pembangunan KAHMI akan bersikap kritis apabila salah arah diterapkan pemerintah. Di prosesnya sendiri tidak memihak dan mendukung siapapun itulah yang selalu didewasakan. ”Dan mudah-mudahan dalam kepemimpinan saya, teman-teman dan semua mau membantu organisasi ini justru menjadi lebih baik lagi,” katanya.
Selain itu, KAHMI juga mempelopori sektor pembangunan yang dianggap memiliki peluang terus berkembang. Meskipun tidak terlibat lansung, tetapi sumbang saran dan keinginan memajukan Kubu Raya, itulah yang ada pada benak semuanya ketika ini. Misalnya, kabupaten Kubu Raya menonjol sektor pertanian, perikanan dan perkebunan. “Makanya, kami akan terus kawal agar sektor seperti ini berkembang dan maju. Bahkan bisa menjadi piloct projectnya Kab/Kota yang lain di Kalbar,” tukasnya.(den)
Copyright © 2008 Pontianak Post
Lembaga Pers HMI-CP Kembali Bangkit
Pontianak,- SETELAH vakum selama kurang lebih 4 tahun, akhirnya Lembaga Pers Mahasiswa Islam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Pontianak kembali bergeliat. Bangkitnya lembaga tersebut ditandai dengan dilangsungkannya musyawarah lembaga untuk membentuk kepengurusan LAPMI-HMICP kemarin.
Caretaker LAPMI-HMICP Rizky Wahyuni mengatakan, kegiatan ini diharapkan mampu mewujudkan kepengurusan yang demokratis agar terbentuk LAPMI sebagai tempat untuk pengaderan jurnalis-jurnalis bermutu di Kalbar. “Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sistem sosial dan termasuk dalam empat pilar demokrasi setelah eksekutif, legislatif dan yudikatif, pers memainkan peranan yang tak kalah pentingnya untuk menunjang pembangunan ekonomi, sosial, ekonomi, politik masyarakat. Pandangan ini tidak berlebihan, karena diyakini bukan saja memerankan fungsi sebagai sumber informasi, hiburan dan pendidikan saja melainkan sebagai kontrol sosial,” katanya.
Ia melanjutkan, bangkitnya LAPMI merupakan momentum bagi kader-kader HMI untuk mencoba berperan aktif sebagai kekuatan civil society memberkan kontribusi bagi kemajuan pers.
Sejalan dengan itu, sambungnya, LAPMI sebagai organisasi kader berbasis keilmuan dan profesi bertanggung jawab untuk menjadikan kader-kadernya mempunyai fungsi kontrol sosial sebagai generasi muda yang memahami dan memiliki keahlian serta kemampuan dibidang jurnalisme secara komprehensif. Untuk memperkuat lembaga ini, sebelumnya telah diadakan pelatihan jurnalistik dasar pada 30 Juni hingga 1 Juli di Aula Magister Ilmu Hukum Universitas Tanjungpura. (zan)
Hari Ini 61 Tahun HMI
Jangan Pernah Menjadi Tua
Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berulang tahun lagi hari ini, 5 Februari 2008. Usianya kini bertambah menjadi 61 tahun. Meski merupakan organisasi kemahasiswaan Islam tertua di Indonesia, HMI tidak pantas disebut tua. Istilah yang lebih tepat adalah memasuki tahap dewasa. Pada level inilah, hemat saya, HMI harus terus tumbuh dan berkembang. Dengan begitu, HMI tidak pernah menjadi tua.
Dengan status dewasa, tantangan yang harus dipikul memang menjadi lebih besar. Namun, tantangan itu tentu cukup berimbang dengan modal yang dimiliki, baik secara ideologi, sistem, maupun struktur organisasinya. Tinggal bagaimana potensi besar tersebut bisa dikelola secara cerdas di tengah perubahan suasana berbangsa dan bernegara saat ini.
Panglima Besar Jenderal Soedirman pada peringatan dies natalis pertama HMI di Jogjakarta pada 1948 pernah berpesan. Ketika itu, dia berkata, HMI bukan semata-mata Himpunan Mahasiswa Islam, tapi Harapan Masyarakat Indonesia. Keyakinan beliau hendaknya tetap menjadi salah satu sumber inspirasi dan motivasi bagi segenap kader HMI.
Perubahan
Awal kelahiran HMI bermula dari sekelompok mahasiswa di Kampus UII (Universitas Islam Indonesia) yang dipimpin Lafran Pane. Latar belakang pendiriannya tak lain adalah untuk memajukan syiar Islam dan memajukan bangsa Indonesia yang baru merengkuh kemerdekaan. Kelahiran HMI memang cukup banyak disemangati cita-cita kebangsaan Indonesia, selain Islam.
Karena itu, dalam perjalanannya, ada tiga garis penting yang membingkai karakter ke-HMI-an. Ketiganya adalah keislaman, keindonesiaan, dan keintelektualan. Resultante ketiganya akan membentuk sosok-sosok insan cita, yakni kombinasi ideal dari insan akademis, insan pencipta, dan insan pengabdi.
HMI bertanggung jawab mewujudkan cita-cita nasional sebagai bagian dari pengabdiannya terhadap Allah SWT. Dengan demikian, kader-kader HMI harus siap memberikan kontribusi. Termasuk, mengisi struktur kepemimpinan bangsa dan negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur.
Ketika reformasi bergulir, muncul otokritik tentang peran HMI. Bahkan, ada yang menyebut HMI hanya menjadi beban sejarah. Namun, dengan berani saya katakan, perjalanan sejarah HMI justru penuh dengan kiprah emas. Sejumlah momentum perubahan bangsa yang sangat penting tak pernah lepas dari kontribusi HMI.
Pada periode 1965-1966, misalnya. HMI memelopori gerakan menentang G 30 S yang mencoba memberontak terhadap Pancasila. Bersama gerakan mahasiswa lain, HMI ikut menggulirkan Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat) yang meliputi turunkan harga barang, bubarkan PKI, dan perombakan kabinet. HMI memiliki peran yang sangat menentukan dalam menekan Bung Karno yang berpuncak pada keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret).
Bukan hanya itu, HMI juga membidani kelahiran kelompok Cipayung pada 1972. Sebuah kelompok kerja sama lintas organisasi mahasiswa dan lintas agama. Dari sana, dideklarasikan komitmen bersama para pemuda untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, bersatu, adil-makmur, menghormati kemajemukan bangsa, dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa-bangsa dunia.
Pendirian organisasi Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) pada 23 juli 1973 juga diwarnai peran kader-kader HMI. Sebab, ada kesadaran perlunya wadah yang mampu menghimpun potensi pemuda dari berbagai latar belakang. Wadah tersebut harus ada guna mempersiapkan pelibatan unsur pemuda dalam pembangunan nasional. Itu semua hanya segelintir karya HMI bagi bangsa dan negara.
Jaga Terus Independensi
Untuk tumbuh secara sehat, HMI harus tetap mengembangkan nalar kritisnya. Independensi HMI tidak boleh terpengaruh berbagai kepentingan pragmatis yang beriorientasi kekuasaan an sich. Hanya dengan idealisme itu, HMI mampu terus menjadi rumah pencerahan yang menarik.
Secara institusi, HMI jangan tergoda, apalagi sampai terjebak untuk mengambil bagian atau masuk ke lingkaran dalam kekuasaan. Seandainya sudah selesai proses mahasiswanya dan menjadi alumni, lantas ada keterpanggilan politik, tentu boleh-boleh saja.
Apalagi, setelah reformasi bergulir, opsi politik kian terbuka. Parpol-parpol mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang. Perkembangan itu juga membuka peluang bagi kader-kader HMI.
Pilihan tersebut baik-baik saja, asalkan idealisme untuk menjadi politisi yang betul-betul memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara terus terjaga. HMI juga bertanggung jawab untuk terus mengingatkan KAHMI-nya agar konsisten menjaga idealisme itu.
Tentu saja, hanya mengerdilkan HMI, jika kita beranggapan ruang pengabdian itu hanya politik. Masih banyak ladang kekaryaan lain yang sudah dirambah para alumnus HMI, mulai perguruan tinggi, lembaga pemerintah, sampai profesional. Semua sesuai panggilan jiwa masing-masing untuk memberikan pengabdian yang terbaik.
Secara institusi, HMI mulai merasakan "kejayaannya" memasuki 1970-an. Ketika itu, ada boom intelektual Islam untuk menghimpun diri di HMI. Tak sedikit generasi itu yang kini mencatatkan diri sebagai tokoh-tokoh nasional. Tak sedikit pula di antara mereka yang sedang menduduki posisi puncak di sejumlah lembaga negara. Mereka semua merupakan produk pengaderan HMI pada rentang 20 atau 25 tahun lalu.
Pertanyaannya, sudah siapkah kader-kader HMI yang kini sedang berproses di kampus-kampus untuk menyongsong masanya? Dengan persaingan yang semakin tajam dan ketat, masa depan jelas tidak mungkin lebih gampang. Makanya, HMI harus mempersiapkan diri dan menyesuaikan ragam metode pengaderannya. Sebab, tantangan yang akan dihadapi jauh lebih bersifat kualitatif.
Pada akhirnya, kualitas SDM sangat menentukan. Kesadaran untuk berkompetisi secara sehat dan terbuka harus dimiliki kader-kader HMI. Kultur kompetisi itu bisa dimulai dengan belajar memelihara basis dan menghadapi kompetitor baru di kampus secara elegan.
Produktivitas dan kreativitas dengan sendirinya akan terasah melalui proses tersebut. Sebab, menjaga basis hanya bisa dilakukan dengan berkiprah secara konkret dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan, baik itu yang bersifat student need maupun student interest. Intinya, HMI jangan sampai lepas dari kampus dan lupa jati dirinya. Di kampus, HMI harus memperlihatkan perannya. Selamat dies natalis ke-61. (**)
*)mantan ketua umum PB HMI
©Copyright 2006, Jawa Pos Online
Selasa, 05 Februari 2008
Muslim, Intelektual, Profesional
oleh Rizky Wahyuni*)
Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI merupakan organisasi mahasiswa tertua yang didirikan di Indonesia. Selang dua tahun dari kemerdekaan Indonesia berdirilah HMI sebuah organisasi kader yang diprakarsai oleh Lafran Pane, seorang mahasiswa tingkat satu Sekolah Tinggi Islam (sekarang bernama UII) tepatnya pada 14 Rabiul Awal 1366 H atau 5 Februari 1947 M di Jogjakarta. Latar belakang historis dan tujuan berdirinya organisasi kader ini adalah memepertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia, meningkatkan derajat kehidupan bangsanya serta menegakkan ajaran islam dan memajukan ummatnya.
Tepat pada 5 Februari 2008 ini HMI menginjak pada usia 61 tahun. Usia yang senja jika diibaratkan sebagai seorang manusia, namun bagi ukuran sebuah organisasi usia demikian merupakan usia yang matang dengan segala pengalaman merekaman sejarah yang pernah dilaluinya.
Tentu saja dengan perjalanan sedemikian panjang HMI mengalami dinamika yang luar biasa. Mulai dari tantangan eksternal organisasi baik itu yang datang dari sistem pemerintahan, kehidupan bebangsa dan sekitarnya maupun tantangan internal dengan adanya perpecahan ditubuh HMI (DIPO dan MPO) dualisme kepemimpinan di pucuk pimpinan (PB-HMI) dan sebagainya.
Dalam usia 61 tahun tersebut HMI telah melewati beberepa fase proses berbangsa dan bernegara di republik ini. Mulai dari orde lama (1945-1965), orde baru (1965-1998) dan orde reformasi (1998-sekarang). Dalam selang tersebut HMI telah banyak menghasilkan para cendekiawan Muslim yang memberikan sumbangsih pemikiran terhadap permasalahan keumatan dan kebangsaan sebut saja Deliar Noer, Nurcholish Madjid, Imaddudin Abdurrahim. Syafii Ma’arif, Azyumardi Azra dan Komarudin Hidayat. Atau tokoh-tokoh politik nasional seperti Akbar Tanjung, Amien Rais, A, Yusuf Kalla dsb.
Diskursus tentang HMI dari awal berdirinya hingga kini tak pernah berhenti, ada yang menyanjungnya setingi langit hingga membenamkannya keperosok jurang yang paling dalam. Tak berlebihan kiranya mengingat kebesaran peran dan gerakannya yang membawa HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam yang diperhitungkan sekaligus menjadi sorotan publik. Apapun yang dilakukan oleh HMI baik itu secara organisasi maupun sebagai individu selalu menjadi perhatian masyarakat.
Walau sampai kini HMI masih eksis sebagai sebuah organisasi berbasis ke-Islaman, ke-Indonesiaan dan kepemudaan, namun ternyata banyak sekali persoalan yang tengah dihadapi. Jika diibaratkan seorang anak manusia yang berusia 61 tahun tentunya adalah seorang kakek atau nenek yang didalam tubuhnya sedang bersarang berbagai penyakit. Tentu saja agar tidak segera ajal menjemputnya harus dilakukan diagnosa untuk melakukan pengobatan dan treatment terhadapnya.
Tidak tabu rasanya di hari yang bersejarah bagi awal perjuangan HMI ini seluruh kader-kader HMI mencoba untuk mendiagnosa melakukan refleksi dan evaluasi terhadap perjalanan HMI. Bahkan dirasakan kader-kader perlu melakukan otokritik terhadap dirinya (baca:HMI) agar HMI bisa terus survive dalam kondisi kontemporernya.
Diagnosa Kondisi HMI hari ini
Sebenarnya Prof. Agussalim Sitompul yang juga merupakan pakar sejarah HMI telah mendiagnosa kemunduran HMI secara komprehensif dalam bukunya 44 Indikator kemunduran HMI. Tulisan ini hanya ingin sedikit memepertegas bahawa sebenarnya sebagai organisasi HMI tidak nilai.Siapa saja boleh memberikan penilaian terhadap eksistensi organisais ini. Terlebih bagi mereka yang terjun langsung menggumilinya.
Keberadaan HMI sebagai organisasi kemahasiswaan sebagai satu stuktur dalam kehidupan sosial sudah sejak lama disinyalir mengalami kelesuan bahkan kemunduran. Hal tersebut adalah suatu fenomena sosial yang tidak lepas dari pengaruh lingkungan global sebagai bentuk interaksi sosial. Kehidupan sosial masyarakat selalu mengalami progres yang begitu luar biasa. HMI sebagai bagian dari sistem pranata sosial tersebut sepertinya kurang dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman yang terjadi. Kader-kader HMI sepertinya gagap dengan kemajuan dan perkembangan zaman yang ada. Persoalan global, kemajuan teknologi informasi penguasaan bahasa asing kurang mendapat tempat dihati pegiat organisasi ini. Padahal hal tersebut yang menjadi perhatian dunia belakangan ini.
Salah satu hal penting yang mulai memudar pada HMI hari ini juga adalah semakin berkurangnya komitmen keislaman dan keumatan kader-kader HMI. Terutama dalam merespon permasalahan keumatan. keberpihakan HMI pada persolana keumatan terutama umat Islam dirasa semakin tak nyata. HMI seperti kehilangan jatidiri keislamannya. tak jarang sebagian masyarakat Indonesia membaut definisi I dalam HMI dengan Indonesia.
Suatu kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi saat ini adalah persoalan perkaderan. HMI tidak lagi dapat mengakar di kampus bahkan lebih ekstrim tidak diminati oleh sebagian mahasiswa. HMI dihadapkan pada kondisi serba ketidak jelasan terlebih bila berbicara persoalan kampus dimana seharusnya HMI berada. Kita (HMI) akan berhadapan dengan perubahan yang drastis dan radikal pada wajah kampus. Saat ini kampus dihiasi dengan wajah-wajah pragmatis dan hedonis. Dan sistem perkuliahanpun semakin tidak ramah dengan aktifitas yang dilakukan oleh HMI maupun organisasi kemahasiswaan lain.
HMI belum punya treatment yang jelas untuk dapat merubah bahkan lebih sederhananya menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Kita (HMI) terkesan kebingungan menempatkan diri secara tepat dalam perkembangan realitas kehidupan yang semakin kompleks. Kita masih berkutat pada pola-pola lama dan kering inovasi. ada sebagian kader yang survive di kampus itu hanya suatu kebetulan belaka.
Kondisi seperti ini memang tidak hanya dirasakan oleh HMI sebagai organisasi kemahasiswaan, tapi seluruh organisasi ekstra dan intra yang ada di lingkungan kampus. Namun kurangnya minat mahasiswa untuk beraktifitas organisasi bukan menjadi apology bagi HMI karena bagi HMI Kampus merupakan centra paling vital. Hal tersebut mengingat HMI merupakan organisasi kader bagi mahasiswa-mahasiswa islam yang ada di universitas maupun perguruan tinggi yang ada. Kader bagi HMI baik secara kualitas dan kuantitas merupakan harga mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi.
Belum lagi kita selesai membahas persoalan minimnya tingkat rekrutmen perkaderan di kampus kita dihadapkan kembali pada persoalan berkurangnya tadisi intelektual HMI. Ini merupakan suatu kenyataan yang sangat memperihatinkan. Padahal jika kita beromantisme sebentar dengan masa lalu, HMI pada dekade tahun 1970-an banyak melahirkan kader-kader yang sangat prestisius dalam bidang intelektual sebut saja Nurcholis Madjid, Ridwan Saidi, M. Dahlan Ranuwiharjo, Dawam Raharjo yang mampu melahirkan pemikirian-pemikiran mumpuni yang masih up to date hingga saat ini.
Peningkatan kapasitas intelektual yang semestinya didukung oleh tradisi RWD (reading, writing and discusion) semakin jauh dari wajah HMI. Karena berkurangnya tradisi-tradisi tersebut mengakibatkan kebanyakan kader HMI kering wacana tidak leading dalam ide. Forum-forum diskusi / forum ilmiah jarang di hadiri oleh kader, tulisan-tulisan yang dimuat dimediapun sangat minim dari kader-kader HMI. kini wjah HMI berganti dengan wajah mereka yang senang dengan hura-hura dan kesenangan sesaat semata.
Berkurangnya perhatian HMI pada peningkatan kapasitas intelektual disebabkan juga karena para praktisi HMI cenderung politic orientied. Kader-kader HMI lebih senang berbicara bagaimana menguasai struktur pemerintahan mahasiswa ketimbang berbicara bagaimana mendobrak kebekuan sistem perkuliahan di kampus. Para senior asyik mempresure juniornya untuk merebut kekeuasaan di berbagai lini bukan mendorong para juniornya untuk berkarya dan berprestasi.
persolana tersebut diatas merupakan sebagian kecil dari persoalan yang selalu dihadapi oleh HMI. mengapa demikian, karena penulis menemukan bahwasanya persoalan yang terjadi dari masa-kemasa di HMI tak jauh dari persoalan diatas.
Kembali Pada Muslim-Intelektual-Profesional
Agar HMI tidak semakin tergerus dan terlindas oleh perkembangan zaman maka perlu ada trobosan baru yang dilakukan oleh HMI dlakukan secara simultan, berkesinambungan dan didukung oleh seluruh elemen yang ada di HMI baik itu tingkat PB, Badko, Cabang, Komisariat maupun lembaga pengembangan profesi yang ada di lingkungan HMI.
Sebenarnya kalau kita (HMI) mau jujur, benar-benar mendalami dan berkomitemen melakukannya semua treatmen untuk memperbaiki HMI telah tergambar jelas di lima kualitas insan cita HMI. Kualitas insan cita HMI adalah merupakan dunia cita yang terwujud oleh HMI di dalam pribadi seorang manusia yang beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan.
Lebih ringkasnya termuat dalam slogan HMI, Muslim-Intelektual-Profesional. Selogan itu telah menjadi spirit of life nya kader-kader HMI. Namun selogan itu tentunya bukan hanya sebagai pembakar semangat bagi kader-kader HMI setelahnya tak berguna apa-apa. Kader HMI harus mampu meterjemahkan slogan tersebut dalam kehidupan nyatanya.
Muslim, sebagai organisasi mahasiswa yang bernafaskan islam seharusnya Islam menjadi jiwa dan memberi pedoman pola fikir dan pola lakunya para kadernya. Sebagai seorang muslim sejati ajaran Islam harus membentuk “unity personality” dalam diri setiap kader. Kualitas ini harus terintegrasikan dengan baik untuk dapat menajawab masalah bangsa dan perjuangan umat islam Indonesia dewasa ini.
Intelektual, Intelektual dicerminkan dari berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis. sejak puluhan tahun silam HMI terkenal dengan organisasi intelektual dimana kader-kader yang ada didalamnya mempunyai kapasitas intelektual yang sangat tinggi, kaya akan konsep, terdepan dalam ide dan gagasan Untuk itu kader-kader HMI sekarang harus tetap mempertahankannya. Penciptaan kondisi iklim intelektual dan akademis seperti menggiatkan kembali budaya diskusi, menulis dan membaca perlu dilakukan di lingkungan HMI.
Profesional, dizaman yang semakin maju ini menuntut semua serba profesioanal. Keprofesionalan yang dimaksud adalah kader HMI sanggup berdiri diatas ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya, baik secara teoritis maupun tekhnis dan sanggup bekerja secara ilmiah yaitu secara bertahap, teratur, mengarah pada tujuan sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan yang ada.
Ditengah tuntutan dan tantangan yang dihadapi HMI, memang diharapkan dapat menempatkan diri secara tepat dan dapat berperan secara optimal sebagai organisasi kemahasiswaan, organisasi kader dan perjuangan. Ketiga konsep tersebut diatas hanya merupakan dasar atau landasan yang harus menjadi spirit of life HMI. Untuk metode aplikasi dan praktisnya tergantung dari tingkat kreatifitas para fungsionaris HMI baik tingkat PB, Badko, Cabang maupun Komisariat dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing daerah baik cabang ataupun komisariat. Ibarat barang dagangan HMI harus mampu merubah wajahnya agar menjadi marketable dengan sistem marketing yang baik dan visioner serta dengan marketer-marketer yang handal.
Masih banyak yang perlu dilakukan oleh HMI terutama menyangkut persoalan eksistensinya. tulisan ini memang tak cukup banyak memberikan kontribusi bagi perbaikan HMI, tapi setidaknya mampu memberikan ruang bagi HMI terutama kader-kadernya untuk sejenak berfikir dan kemudian bertindak.
Di hari jadi HMI ke-61 yang tepat jatuh pada 5 Februari 2008 ini harus jadi momentum untuk HMI agar tidak terlena dengan euforia kebesaran dan kesuksesan dimasa lalu. Harus ada langkah kongkrit merealisasikannya yang merupakan tanggung jawab segenap keluarga besar HMI. Selamat milad HMI ke-61, Go Ahead, Yakin Usaha Sampai!
*) Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam (Lapmi-Hmi)Cabang Pontianak

